JAKARTA – Duet Qori Internasional dari Indonesia Muammar ZA dan Mukmin Ainul Mubarak memeriahkan malam pertama Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Internasional di Masjid Istiqlal Jakarta Kamis (12/3). Muammar ZA dan Mukmin Ainul Mubarak yang merupakan dewan juri didaulat panitia untuk tampil di sela-sela MTQ.
Spontan saja para hadirin terkejut dan menyambut gembira ketika kedua qori internasional tersebut diminta untuk melantunkan kalam Ilahi secara duet.
Sabtu, 08 Februari 2014
0 Qori Terbaik Internasional Asal Kota Tasikmalaya
Diposting oleh Unknown on 22.06 · 0 komentar
Sejak lama nama Tasikmalaya dikenal sebagai “Kota Santri“ karena banyaknya pondok pesantren yang tersebar di hampir tiap kampung. Tak sedikit para santri yang menimba ilmu agama di pondok-pondok pesantren itu berasal dari berbagai daerah di Indonesia hingga mancanagara.
Apalagi nama Tasikmalaya semakin harum setelah H. Mu’min Ainul Mubarok S.Pd.I tercatat sebagai Qori Internasional di Malaysia pada tahun 2008 dan tahun 2009 tatkala di Iran dia dinobatkan sebagai Qori Terbaik Internasional menyisihkan rivalnya dari berbagai negara. “Alhamdulillah, saya bisa meraih prestasi setinggi itu, meski sebelumnya tidak menduga karena harus bersaing dengan peserta lain dari berbagai negara,” tuturnya.
Karena itu tak mengherankan, bila H. Mu’min Ainul Mubarok S.Pd.I kini sering mendapat panggilan baik di tingkat nasional
Apalagi nama Tasikmalaya semakin harum setelah H. Mu’min Ainul Mubarok S.Pd.I tercatat sebagai Qori Internasional di Malaysia pada tahun 2008 dan tahun 2009 tatkala di Iran dia dinobatkan sebagai Qori Terbaik Internasional menyisihkan rivalnya dari berbagai negara. “Alhamdulillah, saya bisa meraih prestasi setinggi itu, meski sebelumnya tidak menduga karena harus bersaing dengan peserta lain dari berbagai negara,” tuturnya.
Karena itu tak mengherankan, bila H. Mu’min Ainul Mubarok S.Pd.I kini sering mendapat panggilan baik di tingkat nasional
Sabtu, 18 Januari 2014
Home /
sebuah kisah
/ Ashabul Kahfi
0 Ashabul Kahfi
Diposting oleh Unknown on 02.47 · 0 komentar
(Seri Kecerdasan Ali Bin Abu Thalib)
Dari Imam Ali ra yang menceritakan Ashabul Kahfi kepada seorang Yahudi yang ingin menguji kecerdasan Imam Ali ra. Apabila Imam Ali ra tidak bisa menceritakandan menjawab pertanyaannya, maka ia tidak mau memeluk ajaran Islam yang dibawa Nabi Muhammad saw.
Tiga orang pendeta Yahudi datang menemui Imam Ali ra, mereka ingin menguji kebenaran agama Islam.
Salah seorang berkata, “Wahai Ali, ada satu masalah yang ingin kutanyakan kepadamu.”
mam Ali ra pun berkata, “Bertanyalah sesukamu!”
Pendeta Yahudi tadi berkata, “Beritahukan kepadaku tentang sekelompok remaja pada zaman dahulu. Yang mana mereka mati selama tiga ratus sembilan tahun, lalu Allah hidupkan kembali. Bagaimana kisah mereka itu?”
Dari Imam Ali ra yang menceritakan Ashabul Kahfi kepada seorang Yahudi yang ingin menguji kecerdasan Imam Ali ra. Apabila Imam Ali ra tidak bisa menceritakandan menjawab pertanyaannya, maka ia tidak mau memeluk ajaran Islam yang dibawa Nabi Muhammad saw.
Tiga orang pendeta Yahudi datang menemui Imam Ali ra, mereka ingin menguji kebenaran agama Islam.
Salah seorang berkata, “Wahai Ali, ada satu masalah yang ingin kutanyakan kepadamu.”
mam Ali ra pun berkata, “Bertanyalah sesukamu!”
Pendeta Yahudi tadi berkata, “Beritahukan kepadaku tentang sekelompok remaja pada zaman dahulu. Yang mana mereka mati selama tiga ratus sembilan tahun, lalu Allah hidupkan kembali. Bagaimana kisah mereka itu?”
Jumat, 17 Januari 2014
0 Kalam Allah
Diposting oleh Unknown on 14.51 · 0 komentar
Dalam pemahaman Ulama kita; ulama Ahlussunnah ketika dikatakan: “al-Qur’an Kalam Allah”, maka dalam pemaknaannya terdapat dua pengertian;
Pertama: Al-Qur’an dalam pengertian lafazh-lafazh yang diturunkan (al-Lafzh al-Munazzal), yang ditulis dengan tinta di antara lebaran-lembaran kertas (al-Maktub Bain al-Masha-hif), yang dibaca dengan lisan (al-Maqru’ Bi al-Lisan), dan dihafalkan di dalam hati (al-Mahfuzh Fi ash-Shudur). Al-Qur’an dalam pengertian ini maka tentunya ia berupa bahasa Arab, tersusun dari huruf-huruf, serta berupa suara saat dibaca.
Pertama: Al-Qur’an dalam pengertian lafazh-lafazh yang diturunkan (al-Lafzh al-Munazzal), yang ditulis dengan tinta di antara lebaran-lembaran kertas (al-Maktub Bain al-Masha-hif), yang dibaca dengan lisan (al-Maqru’ Bi al-Lisan), dan dihafalkan di dalam hati (al-Mahfuzh Fi ash-Shudur). Al-Qur’an dalam pengertian ini maka tentunya ia berupa bahasa Arab, tersusun dari huruf-huruf, serta berupa suara saat dibaca.
Minggu, 12 Januari 2014
0 Tuhan tidak dapat dicapai oleh panca indera manusia
Diposting oleh Unknown on 05.02 · 0 komentar
Dalam perkara aqidah (i’tiqod) seharusnya seluruh kaum muslim tidak ada perbedaan karena perkara aqidah (i’tiqod) bukan perkara furuiyyah
Kaum yang berbeda dengan mayoritas kaum muslim dalam perkara aqidah (i’tiqod) di antaranya adalah para pengikut ulama Muhammad bin Abdul Wahhab yang mengikuti pola pemahaman ulama Ibnu Taimiyyah bermazhab dzahiriyah yakni berpendapat, berfatwa, beraqidah (i’tiqod) berpegang pada nash secara dzahir/harfiah/literal/tertulis/tersurat
Mereka sukar memahami Al-Qur’an dalam pengertian Kalam Allah ad-Dzati. artinya dalam pengertian salah satu sifat Allah yang wajib kita yakini, yaitu sifat al-Kalam.
Kaum yang berbeda dengan mayoritas kaum muslim dalam perkara aqidah (i’tiqod) di antaranya adalah para pengikut ulama Muhammad bin Abdul Wahhab yang mengikuti pola pemahaman ulama Ibnu Taimiyyah bermazhab dzahiriyah yakni berpendapat, berfatwa, beraqidah (i’tiqod) berpegang pada nash secara dzahir/harfiah/literal/tertulis/tersurat
Mereka sukar memahami Al-Qur’an dalam pengertian Kalam Allah ad-Dzati. artinya dalam pengertian salah satu sifat Allah yang wajib kita yakini, yaitu sifat al-Kalam.
Sabtu, 11 Januari 2014
0 Melihat Rabb Dengan Hati
Diposting oleh Unknown on 18.25 · 0 komentar
Allah ta’ala dekat di hati, jauh di mata
Firman Allah ta’ala yang artinya
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang “Aku” maka (jawablah)
bahwasanya Aku adalah dekat“.( Al Baqarah [2]:186 ).
“Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” (QS. Qaaf [50]:16 )
“Dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan)“. (QS Al-’Alaq [96]:19 )
“Dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada kamu. Tetapi kamu tidak melihat” (QS Al-Waqi’ah [56]: 85 )
“Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata” (QS Al An’am [6]:103)
Firman Allah ta’ala yang artinya
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang “Aku” maka (jawablah)
bahwasanya Aku adalah dekat“.( Al Baqarah [2]:186 ).
“Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” (QS. Qaaf [50]:16 )
“Dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan)“. (QS Al-’Alaq [96]:19 )
“Dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada kamu. Tetapi kamu tidak melihat” (QS Al-Waqi’ah [56]: 85 )
“Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata” (QS Al An’am [6]:103)
0 Tujuan ilmu tauhid untuk mengenal Allah
Diposting oleh Unknown on 06.28 · 0 komentar
Kami mohon maaf jika pada akhir-akhir ini tulisan kami terkait ayat-ayat mutasyabihat tentang sifat yang merupakan bagian dari ilmu tauhid yang disebut juga ilmu ushuluddin, ilmu kalam dan ilmu ‘aqa’id.
Kami hanya sekedar berupaya agar orang banyak tidak terjerumus pada kesalahpahaman mereka menjadikan hadits kisah budak Jariyah di dalam kitab Sahih Muslim yang diriwayatkan oleh Muawiyah bin al-Hakam as-Sulami sebagai landasan i’tiqod.
Sekaligus menjelaskan bagaimana mereka yang mengaku ittiba’ (mengikuti) sunnah Rasulullah namun pada kenyataannya mereka dengan jelas melanggar larangan Rasulullah memikirkan dan bertanya tentang DzatNya
Kami hanya sekedar berupaya agar orang banyak tidak terjerumus pada kesalahpahaman mereka menjadikan hadits kisah budak Jariyah di dalam kitab Sahih Muslim yang diriwayatkan oleh Muawiyah bin al-Hakam as-Sulami sebagai landasan i’tiqod.
Sekaligus menjelaskan bagaimana mereka yang mengaku ittiba’ (mengikuti) sunnah Rasulullah namun pada kenyataannya mereka dengan jelas melanggar larangan Rasulullah memikirkan dan bertanya tentang DzatNya
Langganan:
Postingan (Atom)
